Senin, 21 Mei 2012

Pengaruh Tanaman terhadap perubahan suhu lingkungan


Laporan Praktikum Pengetahuan Lingkungan
“ Pengaruh Tanaman Terhadap Perubahan Suhu Lingkungan

Disusun Oleh :
Sri Fatonatut Toharoh ( 103224016 )
Muhammad Sukron    ( 103224022 )
Abdulloh Ubaid            ( 103224025 )
Ainiyatul Muthoharo   ( 103224202 )

Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Surabaya
Tahun Ajaran 2010



DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ............................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................ .. 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................... .. 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................... 2
BAB II. KAJIAN TEORI
2.1 Pemanasan Global......................................................................................... 3
2.2 Penyebab Efek Rumah Kaca....................................................................... 5
2.3 Akibat Efek Rumah Kaca............................................................................ 6
2.4 Lapisan Ozon................................................................................................. 7
2.5 Penipisan Lapisan Ozon................................................................................ 8
BAB III. METODE PERCOBAAN
3.1 Jenis Penelitian............................................................................................ .. 11
3.2 Variabel Penelitian........................................................................................ 11
3.3 Alat dan Bahan........................................................................................... .. 11
3.4 Cara Kerja..................................................................................................... 12
3.5 Kerangka Percobaan.................................................................................. .. 13


BAB IV. DATA dan ANALISIS
4.1 Data................................................................................................................. 14
4.2 Analisis dan Pembahasan........................................................................... .. 14
BAB V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan.............................................................................................................. .. 16
5.2 Saran........................................................................................................................ .. 16
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kehidupan  manusia  tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Abiotik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut benda mati.
Diera yang Global ini banyak masalah yang kita alami, salah satunya yaitu Global Warming ( Efek Rumah Kaca ).Dimana Global Warming ini yaitu disebabkan akibat Meningkatnya suhu permukaan bumi yang  mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Untuk mengurangi perubahan suhu yang sangat ekstrim maka dibutuhkan adanya tanaman, karena tanaman dapat menyerap CO2 sehingga dapat mengurangi proses pemanasan dibumi.
Dalam percobaan ini, kami mencoba menjelaskan bagaimana pengaruh tumbuhan  terhadap suhu lingkungan yang dapat dilihat melalui tinggi rendahnya suhu pada tempat yang ada tumbuhannya dan yang tidak ada tumbuhannya


1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
a.     Apa pengaruh tumbuhan terhadap suhu lingkungan?
1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh tanaman terhadap
        perubahan suhu lingkungan.



BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pemanasan Global
Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Pemanasan Global merupakan meningkatnya suhu bumi secara global. Suhu peningkatan tersebut mencakup atmosfir, laut dan daratan Bumi. Penyebab utama dari pemanasan global yaitu disebabkan oleh aktivitas-aktivitas gas efek rumah kaca yang disebabkan oleh sebagian besar aktivitas manusia yaitu pembabatan hutan secara terus-menerus, peningkatan jumlah kadar karbon yang berjumlah besar melalui industri, kendaraan berbahan bakar fosil, peternakan dan aktivitas rumah tangga.
efek tersebut merupakan segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.


2.2 Penyebab Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Energi yang masuk ke Bumi:
  • 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
  • 25% diserap awan
  • 45% diserap permukaan bumi
  • 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
2.3 Akibat Efek Rumah Kaca

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.

2.4 Lapisan Ozon
Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer pada ketinggian 19 - 48 km (12 - 30 mil) di atas permukaan Bumi yang mengandung molekul-molekul ozon. Konsentrasi ozon di lapisan ini mencapai 10 ppm dan terbentuk akibat pengaruh sinar ultraviolet Matahari terhadap molekul-molekul oksigen. Peristiwa ini telah terjadi sejak berjuta-juta tahun yang lalu, tetapi campuran molekul-molekul nitrogen yang muncul di atmosfer menjaga konsentrasi ozon relatif stabil.
Ozon adalah gas beracun sehingga bila berada dekat permukaan tanah akan berbahaya bila terhisap dan dapat merusak paru-paru. Sebaliknya, lapisan ozon di atmosfer melindungi kehidupan di Bumi karena ia melindunginya dari radiasi sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker. Oleh karena itu, para ilmuan sangat khawatir ketika mereka menemukan bahwa bahan kimia kloro fluoro karbon (CFC) yang biasa digunakan sebagai media pendingin dan gas pendorong spray aerosol, memberikan ancaman terhadap lapisan ini. Bila dilepas ke atmosfer, zat yang mengandung klorin ini akan dipecah oleh sinar Matahari yang menyebabkan klorin dapat bereaksi dan menghancurkan molekul-molekul ozon. Setiap satu molekul CFC mampu menghancurkan hingga 100.000 molekul ozon. Oleh karena itu, penggunaan CFC dalam aerosol dilarang di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia. Bahan-bahan kimia lain seperti bromin halokarbon, dan juga nitrogen oksida dari pupuk, juga dapat menyerang lapisan ozon.
Menipisnya lapisan ozon dalam atmosfer bagian atas diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penyakit kanker kulit dan katarak pada manusia, merusak tanaman pangan tertentu, memengaruhi plankton yang akan berakibat pada rantai makanan di laut, dan meningkatnya karbondioksida (lihat pemanasan global) akibat berkurangnya tanaman dan plankton. Sebaliknya, terlalu banyak ozon di bagian bawah atmosfer membantu terjadinya kabut campur asap, yang berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan dan penyakit pernapasan akut bagi mereka yang menderita masalah

2.5 Penipisan lapisan ozon
Ozon adalah hasil reaksi antara oksigen dengan sinar ultraviolet dari matahari. Ozon di udara berfungsi menahan radiasi sinar ultraviolet dari matahari pada tingkat yang aman untuk kesehatan kita semua. Ozon juga diproduksi manusia untuk dipergunakan sebagai bahan pemurni air, pemutih, dan salah satu unsur pembentuk plastik. Lapisan OZON Lapisan ozon mulai dikenal oleh seorang ilmuwan dari Jerman, Christian Friedrich Schonbein pada tahun 1839. Ia berwarna biru pucat yang terbentuk dari tiga atom oksigen (O3). Ozon adalah gas yang tidak berwarna dan ditemui di lapisan stratosfer yaitu lapisan awan yang terletak antara 15 hingga 35 kilometer dari permukaan bumi. Istilah ‘ozon’ atau lebih tepat lagi ‘lapisan ozon’ mulai mendapat perhatian sekitar tahun 1980an ketika para ilmuwan menemukan adanya ‘lubang’ di lapisan ozon di Antartika. Lubang tersebut merupakan hasil dari tenaga matahari yang mengeluarkan radiasi ultra yang tinggi. Radiasi itu berpecah menjadi molekul oksigen sekaligus melepaskan atom bebas di mana setengahnya diikat dengan molekul oksigen yang lain untuk membentuk ozon. Kira-kira 90% daripada ozon di atmosfera terbentuk dengan cara ini yaitu meliputi di antara 15 sehingga 55 kilometer di atas permukaan bumi. Bagian ini disebut dengan stratosfer. Walaupun begitu, ozon yang ada itu didapati terdapat dalam jumlah yang sedikit yaitu maksimum hanya di antara 20 hingga 25 kilometer. Banyaknya ozon di atmosfer tergantung pada keseimbangan dinamis di antara sejauh mana ia terbentuk dan bagaimana ia musnah. Manfaat lapisan ozon Lapisan ozon sangat penting karena ia menyerap radiasi ultra violet (UV) dari matahari untuk melindungi radiasi yang tinggi sampai ke permukaan bumi. Radiasi dalam bentuk UV spektrum mempunyai jarak gelombang yang lebih pendek daripada cahaya. Radiasi UV dengan jarak gelombang adalah di antara 280 hingga 315 nanometer yang dikenali UV-B dan ia merusak hampir semua kehidupan. Dengan menyerap radiasi UV-B sebelum ia sampai ke permukaan bumi, lapisan ozon melindungi bumi dari efek radiasi yang merusak kehidupan. Ozon stratospheric juga memberi efek pada suhu atmosfer yang menentukan suhu dunia. Berdasar hasil penelitian ilmuwan, lapisan ozon yang menjadi pelindung bumi dari radiasi UV-B ini semakin menipis. Gas CFC disebut juga sebagai gas yang menyebabkan terjadinya penipisan lapisan ozon ini. CFC digunakan oleh masyarakat modern seperti lemari es, bahan dorong dalam penyembur, pembuatan buih dan bahan pelarut terutamanya bagi kilang-kilang elektronik. Para ilmuwan sebenarnya sudah membuat teori dan ramalan mengenai penipisan lapisan ozon ini tahun 1970an. Penipisan lapisan ozon akan menyebabkan lebih banyak sinar radiasi ultra ungu memasuki bumi. Radiasi ultra ungu ini dapat membuat efek pada kesehatan manusia, memusnahkan kehidupan laut, ekosistem, mengurangi hasil pertanian dan hutan. Efek utama pada manusia adalah peningkatan penyakit kanker kulit karena selain itu dapat merusak mata termasuk kataraks dan juga mungkin akan melemahkan sistem imunisasi badan. Pada bidang pertanian, penerimaan sinar ultra violet pada tanaman dapat memusnahkan hasil tanaman utama dunia. Hasil kajian menunjukkan hasil tanaman seperti ‘barli’ dan ‘oat’ menunjukkan penurunan karena penerimaan sinar radiasi yang semakin tinggi. Tanaman diperkirakan akan mengalami kelambatan pertumbuhan, bahkan akan cenderung kerdil, sehingga merusak hasil panen dan hutan-hutan yang ada. Radiasi penuh ini juga dapat mematikan anak-anak ikan, kepiting dan udang di lautan, serta mengurangi jumlah plankton yang menjadi salah satu sumber makanan kebanyakan hewan-hewan laut. Kerusakan lapisan ozon juga memiliki pengaruh langsung pada pemanasan bumi yang sering disebut sebagai “efek rumah kaca”. Usaha-usaha untuk mencegah penipisan ozon menjadi mulai dilakukan bersama oleh semua negara di dunia. Usaha itu pun telah di galakkan secara serius melalui UNEP (United Nation Environment Programme) salah satu organisasi PBB yang bergerak dibidang program perlindungan lingkungan dan alam. Pada tahun 1977 lagi, UNEP telah mengambil tindakan Perancangan Dunia terhadap lapisan ozon dan dalam tahun 1987, dibuat satu kesepakatan dunia mengenai pengurangan pengeluaran bahan yang menyebabkan lapisan ozon telah ditandatangani yaitu ‘Protokol Montreal’. Protokol ini di antaranya menghasilkan tindakan-tindakan dalam mengawal penghasilan dan pembebasan CFC ke dalam alam sekitar. Oleh karena itu, kita semua harus memandang serius masalah ini dan berupaya untuk mencegah atau meminimalkan penipisan lapisan ozon di alam ini dengan cara meminimalkan penggunaan bahan-bahan yang dapat mempertipis ozon agar generasi yang akan datang dapat mewarisi alam sekitar yang masih baik.
Pada tanggal 16 September yang merupakan hari ozon internasional, isu tentang ozon dan kerusakannya adalah salah satu isu yang terus menerus menjadi bahan kajian di beberapa negara. Kerusakan ozon tidak terlepas dari perilaku kita terhadap alam. Efek rumah kaca (ERK) yang menjadi salah satu penyebab dari kerusakan ozon. Ini terjadi antara lain karena penggundulan hutan, polusi, dan pencemaran udara lainnya.
ERK adalah salah satu fenomena dimana gelombang pendek radiasi matahari menembus atmosfer dan berubah menjadi gelombang panjang mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun tidak seluruh gelombang yang dipantulkan itu dilepaskan ke angkasa luar. Sebagian gelombang panjang dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca di atmosfer ke permukaan bumi.
Proses ini dapat berlangsung berulang kali, sementara gelombang yang masuk juga terus menerus bertambah. Akibatnya, terjadi akumulasi panas di atmosfe.Emisi (buangan) industri merupakan sumber kerusakan utama terbentuhya karbon di atmosfir yang menyebabkan terjadinya pemanasan bumi (“global warming”) dan perubahan iklim. “Kyoto Protokol 1997″ dengan United Nation Framework Convention on Climate Change-nya membuat suatu mckanisme baru dimana negara-negara industri dan negara penghasil polutan terbesar diberi kesempatan untuk melakukan kompensasi dengan cara membayar negara-negara berkembang untuk mencadangkan hutan tropis yang mereka miliki sehingga tedadi “sequestration” atau penyimpanan sejumlah besar karbon.

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1             Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimen, karena dilakukan percobaan untuk menjawab rumusan masalah, dan terdapat variabel-variabel dalam penelitian yang dilakukan yaitu variabel kontrol, variabel manipulasi, dan variabel respon.
3.2            Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
Ø  Variabel manipulasi                 : Tanaman.
Ø  Varibel kontrol                        : Waktu Pengukuran
Ø  Variabel respon                       : Suhu akhir.
3.3             Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang kami gunakan dalam melakukan praktikum ini adalah sebagai berikut:
v  Mika bening                                        Secukupnya.
v  Gunting                                               1 buah.
v  Isolasi                                                  Secukupnya.
v  Gelas aqua bening                               3 buah.                                   
v  Tanaman + pot                                    1 buah.
v  Termometer                                         2 buah.
v  Air
v  Stopwatch
3.4             Cara Kerja
1)      Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, setelah itu kami membuat dua buah tabung dari mika bening yang salah satu ujungnya diberi tutup.
2)      Langkah kedua yang kami lakukan setelah 2 tabung sudah jadi adalah menetapkan suhu awal termometer ( T0 ) dengan cara memasukkan dua buah termometer yang akan digunakan untuk mengukur suhu ke dalam gelas aqua yang berisi air ( air es ).
3)      Langkah ketiga yang kami lakukan, untuk tabung pertama :  memasukkan tanaman beserta potnya ke dalam tabung, termometer yang sudah ditetapkan suhu awalnya (T0) dimasukkan ke dalam gelas aqua yang bening setelah itu dimasukkan ke dalam tabung. Tabung kedua : termometer yang sudah ditetapkan suhu awalnya ( T0 ) dimasukkan ke dalam gelas aqua yang bening setelah itu dimasukkan ke dalam tabung. Kami memasukkan tanaman, termometer secara bersamaan ke dalam tabung pertama. Demikian pula untuk tabung kedua kami memasukkan termometer ke dalam tanung secara bersamaan. Jadi antara tabung pertama dan tabung kedua memasukkan tanaman maupun termometer secara bersamaan. Dan meletakkan dua buah tabung ini ditempat yang terkena cahaya matahari / sinar matahari. Dijaga agar tidak ada cela sedikitpun pada tabung agar tidak terkontaminasi.
4)      Langkah keempat yang kami lakukan adalah mengamati perubahan suhu yang terjadi pada tabung pertama yang berisi tanaman, dan tabung yang kedua yang tidak berisi tanaman setiap lima menit sekali dengan menggunakan stopwatch. ( lakukan percobaan ini selama 20 menit, jadi kita mendapatkan data T1, T2, T3, dan T4 )  





3.5             Kerangka Percobaan
                 

BAB IV
DATA dan ANALISIS
4.1 Data
          Data
Waktu ( Suhu )
Tabung
Tabung
Tanpa Tanaman
Dengan Tanaman
T0
31 ᵒ C
31 ᵒ C
T1 ( 5 ' )
37 ᵒ C
35 ᵒ C
T2 ( 5 '' )
39 ᵒ C
37 ᵒ C
T3 ( 5 ''' )
40 ᵒ C
37 ᵒ C
T4 ( 5 '''' )
41 ᵒ C
38 ᵒ C
Rata - Rata
39,25 ᵒ C
36,75 ᵒ C

4.2 Analisis dan Pembahasan
4.2.1. Analisis
Dari data yang kami peroleh di atas menunjukkan bahwa toples yang berisi tanaman memiliki suhu lebih rendah daripada toples yang tidak berisi tanaman. Rata-rata kenaikan suhu pada toples yang berisi tanaman adalah 1.560C, sedangkan kenaikan suhu pada toples yangtidak berisi tanaman adalah 2.880C. Hal ini dikarenakan panas yang masuk pada toples yang berisi tanaman di serap oleh tanaman dan panas yang masuk ada toples yang tidak berisi tanaman dipantulkan kembali oleh bumi.
4.2.2. Pembahasan
Pada percobaan yang kami lakukan, kondisi alam sekitar ridak mendukung karena matahari tidak terlalu terik dan tidak menentu. Suhu normal luar ruangan yang kami peroleh adalah 310C dengan menggunakan toples yang berukuran 1095 cm2. Pada interval 5 menit pertama kami mendapatkan data seperti pada tabel di atas dan kami melakukannya sampai dengan empat kali.
Toples dimisalkan sebagai gas-gas buangan yaitu gas CO2, sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC) yang mengumpul pada atmosfer bumi yang masing-masing menpunyai daya serap panas tersendiri selain meneruskan cahaya matahari tersebut. Kemudian di radiasikan kembali yang tidak dapat menembus gas-gas buangan tersebut.
Tanaman yang berada dalam toples dapat menunjukkan perbedaan aktifitas dalam toples yaitu terjadinya pertukaran O2 dengan CO2 sehingga membuat suhu di dalam toples yang berisi tanaman menjadi lebih rendah dibandingkan dengan suhu di dalam toples yang  tidak berisi tanaman. Selain itu, dalam percobaan ini kita juga dapat membuktikan bahwa dalam proses respirasi, tanaman  juga mengeluarkan uap air seperti pada respirasi manusia.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Tabung dengan tanaman suhunya lebih rendah dibandingkan dengan tabung tanpa tanaman, karena tanaman dapat menyerap CO2 sehingga suhunya menjadi lebih rendah dibandingkan tabung tanpa tanaman.
5.2 Saran
Kehidupan ini berawal dari kehidupan di bumi jauh sebelum makhluk hidup ada. Maka dari itu untuk menjaga dan melestarikan bumi ini harus memikirkannya. Marilah kita bergotong royang untuk menyelematkan bumi yang telah memberikan kita kehidupan yang sempurna ini. Stop global warming! yaitu dengan cara menanam tumbuhan, karena dari menanam tumbuhan kita akan mendapatkan udara yang lebih sejuk dikarenakan tumbuhan pada siang hari menyerap CO2 dan melepaskan O2.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar